Kata-Kata Cinta Berdamai Dengan Diri Sendiri
Ketika suatu kisah harus berakhir,
mungkin hati sangat sulit menerimanya. Tapi hati ini berusaha sekuat mungkin
bertahan dalam badai cinta yang indah. Apa yang telah terucap dari bibir ini
muncul bukan dari emosi sesaat yang menggelora, tapi benar-benar tulus dari
hati terdalam. Aku tak tahu apakah kau merasakannya juga, tapi apa yang
terungkap darimu membuatku tak mampu lagi berkata, hati tak ingin memaksa, hati
tak ingin kau luka lagi, sangat bodoh dan kekanak-kanakan memang, tapi apa yang
hati ini rasakan tak cukup diwakili dengan kata “cinta”.
Aku memang seperti
patung yang tak mampu bergerak, tapi hati ini tidak pernah menstigma hatimu
dengan cinta yang tak indah, hatimu tetaplah hatimu yang dulu hati ini kenal.
Hati ini ingin agar kau mengenalnya lebih jauh lagi, seperti saat kau meraih
tanganku dengan kebahagiaan, seperti itulah apa yang hati ini rasa tentang
dirimu. Memang tak cukup rasa yang luas hanya diwakili dengan waktu yang
sekejap. Hati dengan bisikan lirih berungkap agar cinta kembali dengan lebih
indah sembari menitikkan tinta kuas membentuk lukisan baru yang lebih indah
lagi pada sebingkai kertas rindu, dan memeluknya dengan lembut.
Sungguh jauh dari pengertianku tentang
apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin waktu ingin agar aku bisa jadi yang
terbaik untukmu, begitupun juga dengan apa yang waktu inginkan bagimu untukku.
Aku hanya mampu berucap, tapi tak mampu melakukan apapun agar kau mengerti yang
aku inginkan dari semua rasa yang ada. Ada rasa yang utama, mengikatku,
memelukku, hingga aku bertepi dalam sudut perhatianku tentangmu. Aku selalu
berbisik pada sahabat didalam agar kau mengerti sebenarnya cerita-cerita aku
dengan diriku, semua tentangmu, harapan dan asa bahwa cinta itu mewakili
semuanya, dan aku ingin mewakili hatiku sebagai teman, sahabat, kekasih, rindu,
dan semua yang lirih, membangkitkan hati dan senyummu. Namun, cerita berbeda
jadi amplas yang kasar, namun terus dan berlahan akan menghaluskan cerita ini
jadi lebioh halus lagi. Sungguh sulit kini bagiku bertahan, namun rangkaian
huruf dan kata ini mungkin bisa mewakili lautan rasa yang berdebur di batu
karang pengertian ;“jika aku tak sungguh-sungguh dengan rasa itu, aku tidak
mungkin bersikap seperti itu”.
Apapun yang terucap hanya ingin agar
cahaya itu tak terus redup. Kau mungkin mewakili cahaya itu, tapi aku
seolah-olah membuatmu seperti kegelapan yang merindukan cahaya. Aku benci jika harus
redup, namun sebenarnya tak pernah benar-bnear membencinya, karna aku sadari
“ketika cahaya datang, kegelapan nampak sebgai sinar”. Aku hanya ingin kau
mengetahui ketidakkonsistenanku karena ketika aku bertemu cahaya, aku takut
jika kegelapan tidak bisa meneduhkan dan melelapkanku dalam kenyataan. Aku
hanya takut jika kau pergi dan hilang bersama cahaya itu, lalu aku terpuruk
dalam suara-suara pilu.
Dalam kesunyian disudut lelah, hanya
ada rindu yang menemani. Sambil menerawang kedalam bingkai lukisan Yang Maha,
terungkap banyak kebodohan yang berlari-lari seperti anak-anak. Tidak semua
ternyata terasakkan dalam jiwa, hingga kata-katamu menyatu dihati, membuatnya
tertunduk dan jatuh dalam ingatan untuk jadi kata-kata bijak. Apa yang telah
aku alamai, yang membuatku terbang dalam pelukan kedamaian, mengambisikanku
agar jiwamu bisa merasakan jiwa yang sama. Melihat lakumu, katamu, lambaianmu,
semakin kuat rasa itu menyelimuti, seolah kau bukan yang dulu. Membuatku
membuat ukuranku sendiri untukmu, yang sebenarnya itu mewakili ego. Ternyata
aku harus kehilangan damai itu, bukan semua salahmu, dan akupun tak mampu
memberikan damai itu, bahkan harus kehilangan ceritamu yang akan membawa cerita
baru.
Kau datang dengan senyuman baru yang
meragukanku, membuatku menyimpan tanda tanya yang dalam. Tapi semua bertepi
ditaman jiwa. Cukup perih memang menepikan itu, namun jauh berjalan di
lorong-lorong pemahaman, membuka pintu pikiran baru yang terketuk sejak dulu.
Hingga hari itu, semua telah terungkap dengan ketulusan, berharap kau jadi
lukisan dibingkai rasa ini. Tapi aku sesali semua yang membuat bibirmu untuk
diam, dan membuatku jatuh dan perih, membuatku bergejolak. Di sudut-sudut rasa
perih itu, sahabat datang dengan membawa cahaya baru yang memberikan kehangatan
dan obat rindu yang dalam akan dirimu. Lalu dalam keheningan Ia berbisik “saat
ini kau harus berdamai dengan dirimu sendiri”.
Sumber : Blog Taury Widiantara http://formasihati.blogspot.com

Belum ada tanggapan untuk "Kata-Kata Cinta Berdamai Dengan Diri Sendiri"
Post a Comment